Dec 2, 2017

Monolog

No.
No, it's not okay.
When you keep repeating inside,
"It's okay, It's okay, It is okay."

No.
No, you're not okay.
When you keep repeating inside,
"I'm okay, I'm okay, I am okay."

No.
It is not okay.
You are not okay.
Not until you stop repeating all that in your mind.

Nov 12, 2017

13/11

Aku salah
dalam menilaimu.
Aku salah
dalam mengartikanmu.

Aku salah
tentangmu.
Aku salah
perihalmu.

Aku salah,
dan aku marah,
dan semuanya susah,
dan semuanya bantah.

Atau usai sudah?
Agar tak gelisah?
Agar tak gundah?
Agar mudah?

Apr 30, 2017

Manusia (2)

Mencoba memahami hati manusia itu, sesulit membedah pikirannya. Seperti menjadi seorang musafir, mengembara di negeri antah-berantah. Tidak mengenal seorang pun disana, tidak mengerti bahasanya, tidak fasih dalam mencerna arti geriknya. Hanya bermodal kesungguhan, walau pasti akan kelelahan. Hanya berbekal intuisi, walau tidak ada yang pasti.

Mencoba memahami hati manusia itu, seperti menyusuri simpang dan lintas, tiada batas, tanpa pintas. Tidak pernah ada rute alternatif dengan jarak lebih singkat. Tapi tidak pernah ada buntu, asal tidak ragu. Tidak pernah ada rintang, asal hasrat tidak gersang.

Mencoba memahami hati manusia itu,
mengesampingkan konsepsi individu,
membaur dalam kehidupan dunia baru,
membuka diri terhadap perihal haru biru.

Mencoba memahami hati manusia itu,
secara bersamaan membuka pintu,
yang dari dalam dipalangi gundukan batu,
yang dari dalam dilapisi baja kukuh terpaku.

Mencoba memahami hati manusia itu,
jangan diberi, tapi dibagi,
jangan dipungkiri, tapi diakui,
jangan dipaksa, tapi diterima,
jangan semaunya, tapi seiringnya.

Apr 28, 2017

Manusia (1)

Perasaan manusia itu,
luar biasa,
tiba-tiba.
Bagaimana tidak?

Dia yang terlalu lama menyiksai,
tiba-tiba berhenti.
Dia yang baru saja menyapa,
tiba-tiba tak berjeda.

Yang kemarin dendam, hari ini mendoakan.
Yang lalu marah, kini tamah.
Yang dahulu dongkol, sekarang sekongkol.
Dan sebaliknya, kebalikannya.

Perasaan manusia itu,
luar biasa,
duga-duga.
Bagaimana tidak?

Bentukannya;
kebencian, kemunafikan,
kesadaran, keikhlasan,
keterbukaan, kesempatan.

Dan rangkaiannya;
awal, selang, akhir.

Serta penghubungnya;
tanda tanya, spasi, koma.

Perasaan manusia itu,
luar biasa.

Apr 19, 2017

h e l p

Kenapa kamu memalingkan muka?
Saat air mata saya deras tak terseka.

Kenapa kamu menyingkirkan bahu?
Saat akal saya dirundung pilu.

Kenapa kamu menutup telinga?
Saat suara saya parau teriakkan pinta.

Bagaimana bisa kamu hanya diam?
Padahal niat hidup saya mulai terbenam.

Bagaimana bisa kamu malah heran?
Padahal peran saya hilang bukan perlahan.

Bagaimana bisa kamu tak peduli?
Padahal kamu alasan saya menyimpul tali.

Mengapa kamu baru engah dan terperanjat?
Saat yang tersisa tuk dilakukan adalah melayat.
Mengapa kamu baru tak segan?
Saat jasad saya sudah terbalut kafan.

Mengapa kamu baru sekarang bersedia?
Saat saya sudah diusung keranda.
Padahal selama ini bukan bersenda.
Kata-kata saya bukan bercanda.

Apr 16, 2017

Seperti

Seperti tercekik,
tubuh penuh kerabik.

Seperti tertusuk,
jiwa sarat desuk.

Seperti tenggelam,
otak terserang kram.

Seperti tersayat,
jantung terintang sumbat.

Seperti terhasut,
tuntunan kesik-kesik maut.

Feb 1, 2017

Ayah

     Bekasi-Tangerang. Saya LDR dengan ayah saya. Kalau bukan sedang libur panjang, cuma bisa ketemu 3 hari 2 malam setiap minggu. Sabtu sore sampai Senin subuh. Belakangan beliau sibuk kerja di luar kota, jadinya saya kehilangan 3 hari 2 malam itu. Kadang sedih. Sedih karena setiap ketemu ngeliat rambutnya semakin tipis dan penuh dengan uban, pipinya kurus, matanya berkantung dan sudutnya berkerut, usia juga sudah mau kepala lima, walaupun makin tua makin ganteng, walaupun makin tua makin iseng. Kadang sedih. Sedih membayangkan beliau kerja, cari uang susah-susah untuk menyuapi saya makanan enak, untuk saya senang-senang, untuk saya kuliah, padahal beliau juga bisa lelah. Kadang takut. Takut jauh. Takut ada apa-apa saat beliau sendiri. Ingin beliau cepat ada yang bisa terus menemani, juga biar tidak sepi, tapi bukannya saya rela sepenuhnya.
     Saya sayang sekali sama beliau, sesayang itu sampai sering tiba-tiba mewek sendiri, entah waktu ngeliat beliau atau waktu ngebayangin aja. Padahal lagi tidak ada apa-apa, memang cuma karena saya sayang, takut beliau hilang. Mungin memang begini cara saya menunjukkan perasaan ke orang lain, bukannya melebih-lebihkan, bukannya drama, bukannya hiperbola. Saya takut tidak lagi ada yang nge-line atau nelfon bilang kangen, nanyain lagi apa, sudah makan apa belum, disini hujan apa terang, jangan lupa bawa payung, nyuruh susu diminum, roti dimakan, walaupun bahkan cuma kirim stiker "good night i love you". Takut ngga bisa megang tangannya buat salim, terus dipeluk, terus dicium keningnya sama beliau. Yang jelas semakin dipikir, semakin takut. Belum lagi kalau mikir saya belum bisa kasih apa-apa ke beliau. 
     Karena saya tidak bisa menukarkan kebahagiaan saya dengan kesedihannya, ataupun kenyamanan saya dengan kesulitannya, semoga Tuhan memberikan kesempatan untuk saya dan untuknya.

Jan 30, 2017

My heart aches,
so much.
It aches more these days,
because no one understands,
how much it hurts.
Well i guess it's because of,
me,
i'm the problem.