Nov 18, 2015

Bukan Cerita Benar (5)

Terkadang ku diperbabu bunga tidur
Sepemandangan tubuhmu semakin samar
Kecup jumpa dan peluk pisah kian saru
Sadari aku kau perhati berbalut tipu

Ya, aku memang penceracau penuh khayal
Ku berlari merayau, mencari kedatangan nihil
Dengan ratap mata bergenang dan berkunang
Yakini aku kau koma dalam kenang

Sep 11, 2015

×

Perang, pincang, renggang.
Bentak, hentak, retak.
Sempit, sakit, nyelekit.
Gerah, marah, terserah.

Aug 31, 2015

Ayah&Bunda

Kaki kecil yang belum imbang saat berjalan,
berlari mengejar kupu-kupu,
hingga tersandung batu.

Luka,
hanya baret pada siku,
tapi derai air mata melaju.

Bukan karena pedih,
tapi karena tangan mereka merah,
berdarah.

Tangan mereka,
hangat,
senantiasa mengiringi,
di kanan dan kiri.

Tangan mereka,
besar,
selamanya menopang,
di depan dan belakang.

Love you,
Bun,
Ay.

Jul 20, 2015

Bukan Cerita Benar (4)

Aku mengadahkan harapku di bawah langit jingga keunguan, di atas pasir putih kecoklatan. Aku membebaskan sesakku beriring ombak yang berdebur, bersama angin yang berembus. Aku menghirup segenap tulus hati, menghempas dendam tempo hari. Mungkin pintaku tidak terkabul karena senbazuru nya belum genap seribu. Tapi paling tidak, pesawat kertasnya mendaratkan eksplikasi walau hanya satu. Satu yang akhirnya buat aku mengerti. Setelah ini, takkan ada kamu lagi di selip huruf dalam kalimatku, aku janji.

Kalau kamu rangkaikan aku buket dengan bunga warna-warni dan harum wangi, sekarang aku tahu, yang aku akan kagumi adalah bunga hitam yang mengering di sela lembar buku. Dan kalaupun kamu tuliskan aku berlembar puisi dan konfesi, sekarang aku mengerti, yang aku akan kasihi adalah sebaris caci maki. Kamu memang yang mengawali dan mengisi fragmen dongengku, tapi selebihnya, maaf, halamanku akan terbuang sia-sia jika spasi semua. 
Annyeonghi gyeseyo.

Apr 21, 2015

Bunda

Lara reda kala ia merinai
Seka debu, sapu abu
Kalbu bertutur, rona menerang
Ia bukan kerap kali, ia selalu.

Arloji di tangan
Detik di benak
Lensa di mata
Pandang di nurani.

Saya masih menabung bintang
Tuk hiasi reminisensinya
Saya masih memburu vibranium
Tuk tamengi memorinya.

Agar tetap bukan kerap kali, melainkan selalu.
Agar tetap bukan abadi, melainkan selamanya.

Apr 9, 2015

Bukan Cerita Benar (3)

Berurat dalam jantung hati
berakar dalam naluri
persuaan memunggung
deraian rasa tak terbendung.

Hendak berbalik, namun
penyahut tiada balas
penahan jatuhi tumpuan
pemuja tampik syair pujangga.

Berselimut awan,
sinar mentari tetap menghangatkan.
berpayung gelap nian,
bintang kemintang tetap menenteramkan.

Untuk pengunjung penghujung malam saya,
sampai bersemuka di dua empat tujuh sewaktu-waktu.

Apr 4, 2015

Bukan Cerita Benar (2)

Dua manusia
Bisa jadi saling menjauhi
Di sela ribuan rayu dan jutaan puji

Dua manusia
Bisa jadi saling melupakan
Di tengah jemari rapat terkunci dan tubuh berpelukan

Saya dan kamu
Dapat terus saling mencintai
Bahkan setelah caci dan maki

Saya dan kamu
Dapat terus saling menginginkan
Walau luka dan dendam tak tersembuhkan

Jan 19, 2015

Dari Selatan

Saat ini bisikan suara di kepala lebih ingar dari pekikan yang terdengar di telinga. Suara dari jutaan kata yang tak terangkai seolah berlomba agar kehilangan makna. Luapan ego dan iba pun terbunyikan hanya sebatas dentuman sebutir debu yang jatuh.
Maaf saya tidak bisa tinggal. Maaf pula saya terus menampik mimpimu yang setinggi langit karena rendahnya keinginan saya yang bahkan belum berakar. Kecewamu pasti sudah menumpuk karena segala niat saya yang selalu menghalau dan yang selalu kontradiktif dengan maksudmu. Saya belum mampu berbalik ke utara. Masih letih semenjak tiba. Saya harus mencari yang belum ditemui. Saya harus menemui yang belum didapati. Saya harus mendapati yang belum dimiliki. Saya harus memiliki yang belum diyakini. Saya harus meyakini yang belum dipercayai. Saya harus memercayai yang sedang dicari. Dan dalam pencarian itu jangan tunggu saya, jangan cari saya, dan jangan hiraukan saya. Tetaplah tegap di utara, jangan biarkan kakimu terantuk, terlebih lagi jatuh, karena kekeliruan saya.
Mintalah pada Nya, bukan pada saya yang banyak ingkar. Berharaplah pada Nya, bukan pada saya yang banyak khianat. Untuk kali yang sudah tak terhitung banyaknya, saya minta maaf untuk hal yang sudah tak terhitung banyaknya.

"I can't keep messing up your feelings just because I'm unsure of mine."